Sebersit Pengharapan Di Balik Duka

Sebersit Pengharapan Di Balik Duka

Namanya Nurul Istikharah, siswi kelas X Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Palu. Ia adalah salah seorang dari ribuan anak yang menjadi korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah. Nurul adalah warga Jalan Kenanga, di Perumnas Balaroa, Palu Barat. Nurul memang selamat dari likuifaksi, tapi ia harus rela kehilangan dua kakinya.

Sore itu 28 September 2018, Nurul sedang berada di ruang tamu rumahnya di Jalan Kenanga, Perumnas Balaroa, Palu Barat. Dia sedang mengerjakan tugas mata pelajaran Bahasa Arab dari sekolahnya. Tiba-tiba, gempa dengan magnitude 5,3 skala richter melanda Kota Palu dan sekitarnya.

Nurul berlari ke luar rumah. Ia berlari sambil menggandeng adik perempuannya, Nurul Istiqamah (14). Namun ayahnya, Muhammad Yusuf (43) dan ibunya Risni (45) lebih bisa menguasai keadaan. Mereka tak berlari.

Tapi Nurul ketakutan. Ia khawatir akan datang gempa susulan yang lebih besar. Akhirnya ia mengajak keluarganya agar pergi, tapi ajakan itu ditolak oleh ayah ibunya.

“Papa dan mama bilang tidak apa-apa. Tidak usah kita pergi, karena gempa itu biasa saja,” cerita Nurul.

Nurul Istikharah pasrah. Ia akhirnya kembali ke dalam rumah dan meneruskan tugas sekolahnya itu. Ayahnya pergi ke belakang rumah untuk mengurus ayam yang akan dijual ke pasar keesokan harinya. Sedangkan ibunya meneruskan memasak untuk mereka makan malam.

Suara mengaji di masjid dekat rumahnya mulai terdengar dari toa masjid. Nurul bergegas berwudhu untuk siap-siap Salat Magrib.

Tiba-tiba gempa yang lebih dahsyat terjadi. Nurul terhempas ke ruang tamu. Adiknya, Nurul Istiqamah terlempar ke dapur, sedangkan ibunya tertimpa lemari.

Mereka berhasil menguasai keadaan, ketiganya kemudian berlari keluar rumah. Bangunan mulai runtuh. Tanah-tanah dan jalan di sekitar mereka mulai terbelah. Tanah juga mulai berjalan dan lumpur mulai menyembur. Belakangan, baru diketahui itulah fenomena likuifaksi

TERTIMPA BETON BANGUNAN

Nurul Istikharah tak bisa lagi berlari. Ia sudah tertimpa reruntuhan beton bangunan dan tertanam di dalam tanah bersama adik dan ibunya. Air PDAM yang bocor menghasilkan ada kubangan, dan Nurul Istiqamah akhirnya tenggelam sedalam dadanya. Mereka tak bisa saling menolong, karena tak bisa bergerak sama sekali.

Nurul Istikharah bercerita, posisi adiknya Nurul Istiqamah atau panggilan akrabnya Isti (14) berada di bagian kakinya, sedangkan ibunya, Risni (46) berada di sampingnya.

“Saya lihat mama dan Isti meninggal waktu tertimpa reruntuhan bangunan itu,” cerita Lulu, panggilan akrab Nurul Istikharah.

Ayahnya, Muhammad Yusuf (42) tak kuasa menahan emosi. Ia harus menyelamatkan keluarganya itu. Dia bingung harus bagaimana. Dengan susah payah ia melewati reruntuhan bangunan, lumpur dan tanah yang terbelah itu untuk dapat menemukan keluarganya.

Akhirnya ia berhasil menemukan posisi istri dan kedua anaknya. Ia harus mengeluarkan istri dan kedua anaknya itu dari reruntuhan beton bangunan. Tak ada orang yang sanggup menolongnya saat itu. Muhammad Yusuf kebingungan. Istri dan anak keduanya sudah dipastikan meninggal dunia.

Lulu alias Nurul Istikharah yang tersisa. Ia harus menjaga Lulu agar bisa terus hidup. Dia mendapatkan selang, memberikannya ke Lulu agar bisa bernapas.

Usahanya tak sia-sia. Sampai akhirnya pada Sabtu (29/9) sore, tim evakuasi dari Badan SAR berhasil mencapai tempat Lulu, Isti dan ibunya yang tertimbun.

Mereka berusaha mengevakuasi Lulu yang masih kesakitan. Evakuasi Nurul bukan tanpa resiko, sebab kaki Lulu bisa patah jika ditarik paksa. Apalagi, tim evakuasi tak punya peralatan memadai.

“Tarik saja, tidak apa-apa kakinya patah, asal anak saya selamat. Saya papanya yang bertanggungjawab,” kata Muhammad Yusuf kepada tim evakuasi.

Sungguh sebuah drama penyelamatan yang sangat menegangkan. Sampai akhirnya, Minggu (30/9) dini hari, tim evakuasi berhasil mengeluarkan Nurul dari reruntuhan bangunan. Itupun mereka harus mengeluarkan air dengan menggunakan pompa dari lobang tempat Nurul tertimbun.

AMPUTASI

Nurul berhasil dievakuasi lalu dibawa ke Rumah Sakit Undata Palu. Tim dokter tak bisa berbuat banyak, mereka hanya meminta persetujuan ayahnya, agar kaki Lulu diamputasi. Muhammad Yusuf pasrah dan menandatangani persetujuan itu.

Namun tiba-tiba, pamannya menolak. Kaki keponakannya tak boleh diamputasi. Ia pun memaksa Muhammad Yusuf agar membawa Nurul ke kampung keluarganya di Desa Randomayang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Ternyata di sana tak ada rumah sakit, dan hanya ada Puskesmas Pembantu. Dokter hanya mengatakan kakinya Lulu harus diamputasi, sebab sudah infeksi dan bisa lebih membahayakan bagi nyawa Lulu.

Tak ada jalan lain, Nurul Istikharah harus dirujuk ke Makassar. Rumah Sakit Dokter Wahidin Sudirohusodo menjadi tujuan rujukannya. Tak perlu berlama-lama, begitu tiba di rumah sakit itu, tim dokter langsung mengamputasi kedua kaki Nurul Istikharah alias Lulu. Kakinya diamputasi dari atas lutut ke bawah.

Sebulan lamanya Lulu dirawat di Rumah Sakit Dokter Wahidin Sudirohusodo Makassar. Jumat (9/11) tim dokter sudah membolehkan Lulu untuk pulang.

Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit, dan menumpang di rumah keluarganya di Makassar. Mereka mau kembali ke Randomayang, Pasangkayu, Sulawesi Barat, tapi tak punya biaya. Sejak gempa, ayahnya tak bisa lagi bekerja.

Akhirnya, salah seorang alumni Lemhannas bernama Alfan Cipto dari Surabaya dan Abdul Gafur Mas’ud, Bupati Panajam Paser Utara, Kalimantan Timur bersedia membiayai kepulangan Lulu ke kampung halamannya.

Kini, Lulu akhirnya bisa pulang ke kampungnya. Dia sudah ikhlas menerima kenyataan tanpa kedua kakinya. Lulu mengaku tetap semangat dan akan terus bersekolah. Ia juga bersedia menggunakan kaki palsu jika ada yang bersedia membantunya.

“Tapi saya tidak mau lagi sekolah di Palu. Saya takut,” kata Lulu.

Charles Ham, salah seorang dari Yayasan Hope Worldwide Indonesia mengaku bersedia membantu kaki palsu untuk Nurul Istikharah. Ia berjanji, jika luka Lulu sudah benar-benar sembuh, akan dibawa ke Yogyakarta untuk mengukur kaki palsunya.

“Kita akan membantu Nurul. Nanti kita akan pasang kaki palsudnya di Jogja,” kata Charles. ***

Source : Ruslan Sangadji

 

/ Uncategorized

Share the Post

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *